Seorang perwira TNI, pastinya akan menjadi ujung tombak dari suatu unit yang dipimpinnya. Ia akan bertanggung jawab penuh atas seluruh anggotanya dan pastinya dengan tugasnya juga. Setiap keputusan yang ia ambil, setiap perintah yang ia keluarkan, akan berdampak langsung pada anggotanya. Dalam medan tempur misalnya, setiap perintah yang ia keluarkan tidak hanya menentukan misinya berhasil atau tidak, tidak juga hanya menentukan hidup mati dirinya sendiri, tapi juga menentukan hidup mati anggotanya, memungkinkan istri anggotanya akan menjadi janda, memungkinkan juga anak-anak dari anggotanya akan tumbuh tanpa seorang ayah. Walaupun anggotanya mungkin sudah siap dengan setiap kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi kapanpun (dalam hal ini gugur dalam tugas) dan mereka mungkin juga tidak akan menyalahkan pimpinan mereka jika hal buruk itu terjadi, namun doktrin seorang pemimpin tetap menuntut nurani untuk memperdulikan anggotanya, karena mereka bukan alat yang bebas diperlakukan sewena-wena, mereka tetap keluarga dalam unit kesatuan tersebut dan mereka tetap punya keluarga yang menanti kehadiran mereka di rumah. Tekanan mental yang dahsyat apabila itu sampai terjadi. Maka dari itu seorang perwira juga dituntut memiliki mental yang prima, dituntut tetap berfikir dengan tenang walau kondisi tertekan sekalipun. Lepas dari itu semua, hidup dalam lingkungan militer sejak kecil sangat berpengaruh akan pola pikirku. Lingkungan yang keras namun sarat akan persaudaraan didalamnya. Memiliki figur seorang ayah prajurit juga sangat membuatku bangga akan beliau, beliau mendoktrin berbagai hal baik kepadaku, termasuk dorongan untuk melanjutkan jejak ayahku pun kudapat. Berjalannya waktu aku semakin mengerti akan dunia ayahku, penuh risiko dan tanggung jawab, namun hal itu sepadan akan kebanggaan menjadi seorang prajurit. Ayahku memang prajurit bawahan, rekoso-rekoso ne prajurit nek omonge wong jowo, namun dari situ aku tau seperti apa kehidupan seorang prajurit yang sebenarnya. Satu kata yang bisa mewakili itu semua, kehidupan prajurit itu ekstrim. Yap, ekstrim kejamnya, ekstrim bangganya, ekstrim hidup sederhananya hahaha. Figur seorang perwira memiliki tempat lain dibenakku, mereka begitu gagah dan penuh wibawa. Ya! Aku ingin seperti mereka! Seorang perwira prajurit tempur yang gagah penuh wibawa, yang menyatu dengan anggota, yang disegani, semua hal tentang perwira membuatnya mendekati sempurna dibenakku. Namun satu hal yang mengganjal, pertanggungjawaban seorang pemimpin di akhirat nanti akan cukup berat, setiap ucapan, perintah, keputusan pasti akan menimbulkan dampak, baik itu dampak yang positif maupun negatif. Untuk yang negatif misalnya saja gugurnya anggota akibat perintah yang kuambil nantinya, mampukah aku menghadapinya? Apa yang harus kukatakan pada keluarganya? Istrinya? Anaknya? Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti? Ah, pasti ada jalan. Sudah risiko, aku tetap ingin menjadi seorang perwira! Aku tetap ingin menjadi seorang prajurit! Semoga ridho-Nya selalu menaungiku! aamiin
Minggu, 23 Maret 2014
Senin, 10 Februari 2014
iki crito rodok ngawur, WOCONEN HAHA
He cah iki crito jaman cilikanku kae, naliko aku ijek neng asrama militer yonif 406/ck. Naliko aku sekolah TK kae to cah, aku menengan nanging mbedik yen guruku ngarani, haha. Tapi ngono-ngono aku tau entuk piala harapan 1 nggambar lho cah, jos to? Haha. Jaman TK kae piknike neng pantai ayah, karo neng guo opo ngono aku lali jenenge. Seng ngancani bapakku, ngepasi bapakkku ngePAM piknike (TK kartika dadi seng ngePAM yo tentara haha). Jujune to cah aku ora mabuk, cilikanku kae aku mabukan padahal. Aku wes rodok lali pas piknik TK kae kepiye, rapopo yo haha. Terus kae yo tau rombongan TK ku piknik bareng-bareng neng baturaden, numpake trek ijo tentara, waaaah sangar nda pokoke, waas wess waas wess nyalipi mobil liyo pokoke. Pas kuwi aku dikancani ramane lan biyunge (adine inyong durung ana) wah asik cah piknik keluarga tapi rame-rame keluarga liyane haha.
Bali sekolah TK biasane to cah soboku neng kompi angkutan (panggon parkire kendaraan tentara) karo neng lapangan tembak nggolek manuk, barang suwi ora bali-bali mesti biyunge bingung nggoleti njuk nesu-nesu cah, bayangna bae galake kayang ngapa biyunge inyong haha pas kuwi ramane nembe tugas nang ambon kae. Angger sore ajaran pit karo biyunge nang jalan halus (ini nama jalan yang paling halus di asrama, padahal penampakan jalannya pu tidak halus), sitik-sitik tibo, ora iso-iso numpak, biyunge inyong ora frustasi, sungguh mulia kau ibu! Naaah barang uuwis bisa numpak pit, angger mangkat TK bisa numpak pit, barang pas bali sekolahe ban pite sering bocor utawa rantene ucul, jenenge cah cilik ora teyeng ngapa-ngapa dadi bingung cah, untunge angger lewat kesehatan (semacam klinik kesehatan di dalam asrama) ana om ome sing lagi piket melasi maring inyong njuk ngewangi inyong haha alhamdulillah.
Paling terkenang kuwi pas ramane bali sekang ambon, keluarga nang asrama uwis pada heboh tuku kiye tuku kuwe, seru. Ramane inyong ngirimi inyong klambi loreng, dikon nganggo pas parade prajurit. Sore kuwe angger ora salah, sirine mobil PM uwis krungu pertanda iring-iringan uwis perek, dag dig dug nang ati uwis setaun ditinggal ramane. Iring-iringan trek wes mlebu asrama, lha parade prajurit e ana nang mburine, gagah gagah cah! Inyong bingung endi ramane inyong, deneng rupane pada kabeh, di samar raine (wajah diberi cloreng-cloreng). Ujuk-ujuk ana om-ome sing ngawe-ngawe inyong sekang njero barisan prajurit pas upacara penerimaan prajurit, lha om nana tanggane inyong ngomong ‘itu papa yan, sana lari kesana’ inyong ya angger mblayu bae marani sing ngawe-ngawe inyong. Bingung sanajan kuwi si sapa, tak takoni bae ‘om, papa mana’ e jebule disauri ‘ini papa dek’ haha kuwi ramane inyong jebul, yaaah jenenge cah cilik ditinggal ramane tugas akeh sing lali marang ramane, ora Cuma inyong, akeh bocah sing ditinggal ramane tugas pada lali marang ramane, risiko dadi putra prajurit, nanging mest duweni kebanggaan tersendiri marang ramane sing dadi prajurit kuwe, aku bangga kepada mu ayah!
Nyenengake maning angger ana karnaval 17an, inyong mesti nanggo klambi tentara lengkap karo tembak-tembakanne lan raine disamar karo ramane inyong dewek, bayangna! Mangkat numpak trek tentara bareng trek sing meh dinggo karnaval barang, ana om ome tentara lengkap karo senjatane barang cah! Seru! Seruu maksimal pokkoke!
Haaa biasane to cah angger ana taja (tamtama remaja) anyaran kuwikan kaya diospek lah, di gojlok, digebuki, disiksa entek-entekan sampek elek pokoe, tapi malah kuwi dadi tontonan sehari-hari bocah-bocah cilik sing nang asrama, bayangna ya ko lagi nonton taja sing direndem nang kolam karo digebuki nganggo kayu utawa sselang ngasi kecape pating ndlewer! Sirahe ko dijotos nganggo seng ngasi pada bocor, pokoke dudu tontonan yang sehat untuk ukuran anak-anak kecil. Tapi uniknya, anak-anak kecil diasrama yang menyaksikan hal itu sudah tau bahwa itu bukan untuk ditiru. Mereka seakan mengerti kenapa taja itu diberlakukann seperti itu. Dan anehnya banyak diantara anak-anak kecil itu justru menjadi sangat terobsesi untuk menjadi seorang prajurit, sama seperti ayahnya, termasuk aku. Padahal mereka telah menyaksikann kejamnya pendidikan militer, tapi itu tidak mempengaruhi mereka. Semangat kami, niat kami, sudah bulat, kami ingin melanjutkan jejak ayah kami. Ada diantara kami yang ditinggal ayahnya gugur dimedan pertempuran, kami tau itu sudah risiko menjadi putra prajurit. Menjadi putra prajurit dituntut untuk hidup sederhana, penghasilan mereka tidak seberapa, tetapi kami punya kebanggaan yang hanya kami yang miliki, kebanggan menjadi putra seorang prajurit. Semangat yanng ayah kami wariskan kepada kami sangat kuat, aku juga merasakan itu.
Yak oke cah cukup dulu critanya yang agak berantakan bahasanya ya haha, itu baru sekelumit kisah masa kecilku yang bagiku cukup menarik. Maaf kalo susah dipahami. haha
Minggu, 09 Februari 2014
Ini tentang abangku…
aku biasa panggil dia bangkuk, bangsat atau apalah sesuka ku. Dia sudah seperti abangku sendiri. Dia ajarkan segala pengalamannya padaku, sangat bernilai. Idealis, optimistis, kreatif, murah hati, narsis, stalker, tapi sedikit over PD dan agak pelupa sampe-sampe naruh kunci motor aja sering lupa haha, kira-kira itu gambaran umum tentang dia. Mimpinya sama sepertiku, mendaki bukit Tidar! Semoga kita bisa bertemu disana bang, aamiin. Tahun ini dia daftar AKMIL untuk yang kedua kalinya setelah di tahun sebelumnya dia gagal, semoga Allah telah menyiapkan jalan restuNya untuk abangku. Awalnya dia ingin menjadi praja IPDN tapi entah kenapa niat itu ia urungkan dan beralih untuk menjadi taruna AKMIL, apapun itu semoga itu yang terbaik bang, oke! Adik sangat beruntung pernah mengenalmu, adik senang, mungkin adik tidak bisa membalas semua kebaikan mu bang, tapi adik selalu doakan yang terbaik untukmu bang. LAKUKAN SAJA YANG TERBAIK, DAN SERAHKAN HASILNYA PADA YANG MAHA KUASA, PERCAYA ITU YANG TERBAIK! Adik selalu mendoakan yang terbaik untukmu bang!
Sabtu, 08 Februari 2014
Tak Mengapa Aku Sudah Biasa
Tepat 5 Februari kemarin resmi 17 tahun usia ku sekarang, awalnya aku tak cukup berhasrat untuk melewati hari dimana usiaku resmi beranjak. Tidak ada hal spesial yang sebenarnya kuharapkan terjadi, benar-benar tanpa gairah. Orang tua ku saja tak membuat hal itu menjadi spesial, “sweet seventen” yang selalu dinantikan oleh remaja pada umumnya tidak terjadi padaku. Tak mengapa, aku sudah biasa.
Pagi itu ketika kubuka HP berharap ada seseorang yang ingat akan hari spesialku dan benar saja, kutemukan satu pesan. Sahabatku sebut saja P, dia yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun padaku, sempat ku utarakan beberapa unek-unekku kepadanya, sedikit plong lah, sedikiiiiiiiiiiit. Dengan tampang yang masih tampan gara-gara baru bangun tidur, aku mulai beranjak dari kamar dan mencoba menemui orang tuaku berharap mereka menyiapkan sesuatu untukku. Tapi, ternyata masih sama seperti hari ulang tahunku yang sebelum-sebelumnya, tidak ada yang spesial. Tak mengapa, sudah biasa.
Makin terasa mengambang, tapi aku berpikir kalo sudah biasa dengan kondisi seperti ini, kenapa nggak dibikin enteng aja. Yah, aku anggap saja hari ulang tahunku itu seperti hari biasa. Mulai terasa sedikit ringan, tapi tetap saja masih terasa sedikit mengganjal. Tidak dipungkiri, ada sekelumit harapan agar hari spesialku itu tidak berlalu begitu saja tanpa ada hal spesial. Namun apa bisa kuperbuat. Tak mengapa, sudah biasa.
Aku pun tetap bersikap seperti biasa, layaknya tidak terjadi apa-apa. Tanpa menunjukkan ekspresi senang maupun sedih, yaaa flat lah pokoknya. Aku tidak terbiasa mengungkapkan segala yang kurasakan kepada seseorang, aku tipe orang yang bisa dibilang tertutup. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memancingku bicara banyak. Saat teman-teman ku memberi ku ucapan selamat ulang tahun pun aku hanya menanggapinya dengan yaaa bisa dibilang cuek sih, bagi mereka itu sudah sikapku yang biasa mereka kenal, jadi tidak masalah menurutku. Lebih menyebalkan ketika mereka meminta makan-makan, sebenarnya nggak masalah sih kalo aku ada uang, tapi masalahnya aku aja nggak ada uang yaaaa jadi bingung nolaknya gimana haha.
Malam harinya, abangku ngajak nyari nasi goreng. Ternyata dia memberiku kado ulang tahun, ini termasuk hal spesial bagiku, alhamdulillah haha. Pemberianya sangat bermakna bagiku, terimakasih abang! Adik suka! Haha. Diluar dugaan juga sahabatku P memberiku kado yang dititipkan lewat pacarnya, sedikit canggung tapi yaaa run well haha. Ini juga hal spesial yang aku tunggu. Hal-hal spesial yang terbilang sederhana ini sudah sangat bermakna bagiku. Cukup memberi kesan untuk ulang tahunku yang ke 17 ini. Banyak teman-teman ku juga yang memberiku doa tebaik mereka untukku. Semoga Allah swt membalas setiap kebaikan orang-orang yang telah melakukan kebaikan untukku. Aamiin
Sebenarnya doa ku di usia ku yang sudah beranjak 17 tahun ini hanya 1, yaitu agar Allah swt melancarkan jalanku menggapai cita-citaku, menjadi taruna AKMIL, aamiin. Keren kan? Haha. Entah kenapa disaat kondisiku tak bersemangat, hanya dengan mengingat-ingat tentang cita-cita ku itu semangatku kembali bergairah.
Over all, alhamdulillah aku masih diberi usia hingga 17 tahun ini, entah sampai kapan batas usia yang diberi Allah swt untukku. Aku hanya terus mencoba melakukan segala yang terbaik agar tidak menjadi manusia yang sia-sia. Biar jadi orang yang idealis, yang penting bukan idealis mati. Bismillah, kujalani usia ke 17 ku, semoga berkah. aamiin
Terimakasih untuk Orangtuaku, kalian tetap yang terbaik. Terimakasih untuk semua orang yang peduli padaku. Terimakasih.
Rabu, 11 Desember 2013
Sebuah Renungan
Rabu, 02 Oktober 2013
Cerita Seorang Prajurit Dari Tapal Batas (1)
Naskah Asli Oleh: Kurnia Hadinata
![]() |
| Ilustrasi |
Hutan ini begitu perawan, gelap sepi, di dasar lembah yang paling dalam. Hanya gemericik air jatuh di bibir tebing, hujan yang mengibas-ngibas di ujung-ujung kayu memaksa semuanya temaram dalam nuansa dingin. Hanya bunyi binatang penggerek atau kecoak tanah yang merengkuh di telinga. Lembah ini paling dalam, di perut bumi Cendrawasih, tersunyi tak tersentuh sama sekali. Letaknya entah di distrik atau kabupaten apa, kurang jelas karena kabut yang memangkas jarak pandang. Mungkin arah paling timur negeri ini, ratusan kilometer dari Jayapura. Mungkin juga tidak terlalu jauh dari perbatasan Papua Nugini. Di situlah aku kini tersungkur tak berdaya.
Kulihat tubuhku remuk, badan sakit semuanya, terasa remuk redam. Saya melihat kebawah, darah berlumuran dari pangkal paha hingga ke kaki. Sakit sekali, kaki saya tidak bisa digerakkan. Perlahan-lahan, saya memandang berkeliling, tidak ada kehidupan. Hancur, berantakan dimana-mana. Ya semua serba berantakan, serba hancur, puing demi puing berserakan, sebahagian tergantung di dahan-dahan kayu.
Hanya ada baling-baling panjang yang ringsek dan tergolek di tanah satu-satunya menjadi tanda. Ya, helikopter yang kami naiki dari Jayapura itu, helikopter milik TNI AU jenis Super Puma SA330, tak berdaya melawan kabut kelam dan ganasnya cuaca di pedalaman Papua ini. Setelah didera kabut pekat dan terjangan angin badai, heli bernomor registrasi H 3XXX yang sudah tua itu oleng dan hilang kendali. Pilot masih sempat melakukan kontak beberapa waktu yang lalu dengan Jayapura namun sesudah itu sama sekali terputus.
Pilot dan Co-pilot heli, masing-masing Mayor Pnb. HXXX dan Lettu Pnb. GXXXXX, sudah tak bernyawa. Keadaan tubuh mereka lebih parah dari aku. Hery tubuhnya tergeletak dengan posisi tertelungkup. Kepalanya remuk dan sebuah besi panjang menancap di dadanya hingga tembus ke belakang. Lebih parah lagi GXXXXX. Tubuhnya nyaris sama sekali tidak dapat dikenali, terpotong, terpisah-pisah akibat diterjang baling-baling heli. Ah, sungguh aku tak bisa menceritakan keadaannya, sangat mengenaskan. Ya aku ingat sewaktu heli oleng tubuhnya terbanting ke luar dan langsung ditebas baling-baling.
Sementara dua lagi temanku sama-sama penempatan di pos pengintaian di Arso, Serka BXXXXXX dan Serka DXXX, jenazah mereka tergantung di atas pohon dengan kondisi memiriskan dan tak lagi bernyawa. Hanya bunyi gemerisik suara radio HT yang mematahkan daun-daun. Kadang suara itu menyatu dengan gemericik tetesan hujan dan semilir angin yang tersasar di sela-sela kayu.
Dari jauh tubuhku seperti melayang, menuju ke rumahku. Waktu seperti diputar balik, aku kembali ke masa silam. Aku melihat ayah dan ibuku tengah menggendongku. Aku ditimangnya, mereka bahagia akan kelahiranku. Tak terasa tiba-tiba saja aku sudah berada di asrama Secabaku dulu di Padangpanjang. Aku bercanda gurau dengan sahabatku si Letnan Samson alias Ramses dari Medan itu. Tak lama sesudah itu gelap bertahta. Tiba-tiba saja aku terbangun dan mendapati Ramses tengah duduk di sampingku di tapal batas ini.
Penghujung tahun yang sendu, hujan mengelupas dari langit begitu menderas, menggila menyetubuhi bumi dengan segala rintiknya. Di penghujung Desember yang dingin dan sembab semuanya tiba-tiba berubah menjadi mendung lalu berat dan menggugurkan bayi-bayi gerimis. Hujan membuat garis-garis langit seperti renda-renda putih yang semakin kabur dari ujung timur. Garis-garis air itu kadang berubah haluan dibawa angin yang semakin terpukul.
Ya, hujan yang menaburkan harapan kehidupan dan kelembapan di hutan tropikal, berbagai macam bibit kehidupan jatuh dari langit kelam yang pekat kelabu. Hujan memelihara bibit demi bibit itu untuk hidup dan menebarkannya di pesona bumi hijau di wilayah pulau Papua ini, di Keerom wilayah paling ujung NKRI ini. Hujan juga menyapa lembut setiap permukaan bumi. Dari sejauh mata memandang hanya pohon-pohon raksasa yang tiada pernah kujumpai di tanah asalku Sumatera paling barat.
Di sini, di hutan ini, di wilayah timur ini, pohon-pohon itu menjadi hantu legam, diam dan seperti merenung dalam kesepian. Di sini semuanya seperti membeku, menyembul ke angkasa terperangah membelah langit bagai tiang-tiang dari perut bumi yang menjulang menunjuk langit. Satu setengah bulan yang lalu aku dihempaskan perjalanan nasib ke sini. Ya hitungan waktu, tak terasa sudah memasuki bulan kedua aku di sini, di ujung wilayah tapal batas di distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom Papua, antara NKRI dengan wilayah negara Papua Nugini. Di sini orang-orangnya fasih berbahasa Nugini, berbahasa Indonesia, atau bahasa suku setempat. Kadang sulit membedakan mana orang Indonesia atau yang mana orang Nugini.
Semuanya serba campur aduk, inikah kehidupan tapal batas itu? Jauh dari hiruk-pikuk kota raya. Warga sekitar perbatasan sering melintas tanpa dokumen. Itu sudah perjalanan tradisi, mereka tidak pernah bawa surat-surat. Batas sebuah negara kadang tidak begitu penting untuk melangsungkan interaksi kehidupan yang telah berjalan semenjak leluhur mereka. Mereka tinggal mendiami beberapa daerah berdataran tinggi. Pola pemukimannya tetap secara berkelompok, dengan penampilan yang ramah. Adat-istiadat dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi" sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan di sungai, berburu di hutan di sekeliling lingkungannya.
Sebahagian mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang dataran rendah aliran sungai. Kadang kehidupan penduduk yang alami itu seperti mengisyaratkan bahwa mereka sama sekali belum terjamah oleh pembangunan apalagi kepentingan politis. Mereka masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan, hidup sederhana dan menggantungkan diri pada alam, ironis memang. Jika dibandingkan dengan Indonesia wilayah barat jelas pembangunan di sini, di pulau matahari terbit ini begitu berjalan pelan. Padahal pulau ini sangat memiliki kekayaan alam yang tak terkira dan eksotik. Aku sudah tiga hari mengisi pos pengintaian tapal batas ini di distrik Arso. Pos ini hanya ditempati oleh beberapa orang prajurit TNI saja. Sebelumnya, aku menduduki pos di wilayah distrik Senggi.
Jumlah penduduk di kabupaten ini tersebar sedikitnya di 50 kampung dengan jumlah penduduk lebih dari 50 ribu jiwa. Memang prajurit TNI yang bertugas sengaja digilir dan ditukar sebagai salah satu cara mengusir kebosanan sekaligus untuk melakukan tugas rutin kami yaitu patroli dan memastikan tidak terjadi apa-apa di wilayah tugas kami. Inilah kehidupanku, jauh dari kesan kemewahan, jauh dari kesenangan hidup dan idealnya hidup zaman sekarang. Hidup kulalui seakan sebagai orang yang tengah bersemedi di kesunyian hutan. Bertemankan malam-malam yang dingin, tiada makanan enak di sini, cuma santapan sederhana, itu tidak lebih. Tiada hal yang berbau kemewahan di sini, semua serba apa adanya. Hidup dalam bayang-bayang kewaspadaan dan rasa kekuatiran. Di sini antara hidup dan mati tipis sekali bedanya.
Kadang kita bisa aman sewaktu-waktu, kadang bahaya mengancam keadaan bisa berubah buruk. Beberapa waktu lalu pos di Senggi diserang oleh beberapa orang separatis bersenjata. Tiga prajurit TNI gugur dalam serangan tiba-tiba di pagi buta itu. Padahal mereka baru ditempatkan beberapa hari. Di sinilah hidup memang harus dijalani, meski terlihat aman, namun sewaktu-waktu bisa berbalik menjadi sangat berbahaya. Sebagai TNI, sebagai prajurit mental kami memang sudah dilatih dan disiapkan untuk terjun dengan medan dan kondisi apa pun.
Inilah kehidupan seorang tentara, menjadi prajurit TNI, kehidupan di tapal batas. Inikah cita-citaku? Jujur saja, mungkin tidak. Awalnya menjadi tentara hanyalah karena aku ingin memenuhi keinginan dan cuma membahagiakan ayahku saja. Ayahku sangat ingin aku menjadi tentara, dan untuk itu dia mau melakukan apa pun. Seiring perjalanan waktu kini menjadi tentara sudah menjadi hidupku, dan aku harus mencintai profesi ini dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Entahlah kadang beragam kebimbangan terus mendera, tapi itu semua sudah aku bulatkan, karena di awal mengenakan seragam ini, hati ini sudah bertekad siap mati membela tanah Pertiwi. Lebih baik pulang membawa nama dari pada gagal dalam menjalankan tugas. Inilah panggilan nuraniku sekarang menjadi abdi negara, menjadi pahlawan kebanggaan bagi ayahku, bagi keluargaku atau mungkin bagi anak dan istriku kelak. Kadang kalau dipikir dengan mengenyampingkan rasa patriot dan rasa cinta akan tanah air ini, rasa-rasanya tidak impas apa yang kudapat sekarang dengan pengorbanan yang sudah diperbuat oleh ayah dan ibuku di kampung. Ya demi melihat anak semata wayangnya gagah berpakaian loreng, memakai baret apa pun pasti ditebusnya. Itulah ayahku, lelaki tegas si cemara angin itu.
Walau mereka harus siap sewaktu-waktu anaknya itu gugur sebagai syahid dalam melaksanakan tugas. Aku masih ingat, tiga hektar kebun kopi milik ayah berikut sebuah sepeda motor Honda CB keluaran akhir 70-an ludes terjual. Ya, kebun kopi yang sangat produktif berbuah itu beserta motor kesayangan ayah terpaksa dijual demi memasukkanku ke sekolah calon tentara di kota Padangpanjang. Awalnya aku menolak karena aku tahu dan sadar, ayah mempertaruhkan segalanya, asal aku bisa masuk sekolah pendidikan tentara itu. Aku berusaha membujuk ayah untuk mengurungkan niatnya agar tidak memberikan uang pelicin.
“Sudahlah, Buyung, sekarang ini sudah jarang orang masuk Secatam itu tanpa uang pelicin, mumpung ini ada orang yang membantumu, Yung. Ayah ikhlas, dan hutang ayah sudah lunas kelak jika melihat kau gagah berpakaian loreng itu,” ujarnya waktu itu.
“Tapi, Yah, aku yakin aku bisa lulus tanpa pakai uang seperti itu. Jumlahnya tidak sedikit, Yah. Lebih baik untuk yang lain saja, untuk menjadi orang sukses itu tidak musti jadi tentara, Yah,” aku lagi-lagi mencoba merajuk membujuk ayah.
“Pokoknya Ayah ingin kamu menjadi tentara. Kamu harus bisa membanggakan keluarga, membanggakan almarhum kakekmu, karena kamulah anak laki-laki satu-satunya yang Ayah miliki,” balas ayah.
Kalau sudah begitu aku pasti menurut pada ayah, sebab aku tahu persis tabiat ayahku: ia orang yang teguh pendirian. Akhirnya, berkat jasa seorang kenalan ayah itulah aku dapat diterima. Aku memasuki pendidikan di Secaba itu. Ayahku tersenyum bangga dengan keberhasilanku itu. Tak tanggung-tanggung, demi kebahagiaannya itu ayah menggelar syukuran yang cukup besar. Semua diundang, mulai kerabat, handai-taulan, orang terkemuka di kampung, sampai anak yatim. Aku tidak bisa menghalangi niat ayah. Biarlah ia menikmati kebahagiaannya sendiri. Itulah kebahagiaan seorang ayah mungkin, kebahagiaan yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.
Sesekali dalam masa pendidikan di barak aku masih sempat pulang kampung. Ayah membuat aturan: kalau pulang aku harus mengenakan pakaian seragamku. Kadang aku tertawa geli dibuatnya. Ah, perangai ayah kadang ada-ada saja. Tapi sudahlah, nyatanya aku bahagia juga jika ayahku senang. Ia akan menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum haru merengkuhku. Rasanya terbayar sudah jerihnya mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memasukkanku menjadi tentara.
“Kau tahu, Buyung, ayahku, kakekmu, pasti akan tenang di alam sana, apalagi kalau tahu cucunya sekarang sudah melanjutkan jalan hidupnya, menjadi prajurit pembela merah putih, pembela tanah Pertiwi. Aku berjanji padanya, Yung, kalau aku punya putra aku akan menjadikannya tentara. Hutang janjiku lunas sekarang, Yung. Arwah kakekmu sebagai syahid pejuang kemerdekaan pasti akan tenang,” ungkapnya dengan serak penuh nada kebanggaan bercampur haru.
Aku tahu ayahku; aku tahu sejarah keluargaku. Ayahku adalah seorang veteran pejuang, yang bersama kakekku ikut berjuang membela bangsa ini mengusir penjajah. Kakekku gugur dalam peperangan di kota Padang. Dia menghembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa peluru menembus dada kirinya. Ayah tak pernah lelah menceritakan peristiwa heroik itu setiap menjelang aku mau tidur. Mungkin cerita sejarah ayah itu juga yang menguatkan pilihanku untuk menjadi tentara.
Tahun-tahun berikutnya aku dilarutkan dengan masa tugasku. Aku mulai jarang pulang. Tahun pertama aku ditugaskan di sebuah pulau terujung di pulau Sumatera, daerah konflik, yaitu Aceh. Dua tahun aku sempat pulang dan kembali mendapatkan tugas di Mentawai. Tidak selang beberapa lama aku ditarik dan dikirim menjaga perbatasan di kawasan Nusa Tenggara Timur dan selanjutnya sampai di penghujung timur tanah Pertiwi ini, pulau Papua, atau provinsi Irian Jaya dulu namanya di zaman Orba.
“Berangkatlah, Buyung. Aku bangga padamu. Jagalah keutuhan bangsa ini. Aku ikhlas, Nak, jika sewaktu-waktu hanya namamu yang pulang.”
Hanya itulah kata-kata ayah yang bisa ia ucapkan. Sama sekali ia tidak menangis. Ia sangat tegar dan sama sekali tiada guratan kesedihan dari wajahnya itu. Berbeda dengan ibu yang tak kuasa menahan tangisnya. Itulah terakhir kali aku merengkuh tubuh paruh baya, semenjak itu aku hanya mendengar suaranya. Terakhir empat bulan yang silam aku kontak dengan ayah di kota Jayapura. Waktu itu ia sempat menanyakan keinginanku untuk menikah. Oh, menikah, ingin sekali aku akan hal itu, menghadiahkan orang tua itu seorang menantu dan sosok jabang bayi yang kelak akan ia timang-timang dan memanggilnya kakek.
Tapi lagi-lagi batinku kecut. Gadis mana yang akan tahan memiliki suami seperti aku ini, tiap sebentar ditinggal pergi suaminya, bisa berbulan bahkan bertahun-tahun tak bertemu suaminya. Mungkin juga harus siap-siap menjadi janda jika sewaktu-waktu suaminya gugur dalam menjalankan tugas. Lihatlah si Ramses, temanku dari Medan. Baru seminggu menikah dia harus meninggalkan istrinya, bahkan sudah berumur dua tahun anaknya belum pernah sekali pun ia menggendongnya, cuma mendapatkan kiriman foto saja. Ya inilah kehidupan tentara itu, pengabdian lebih utama. Ah, aku belum sanggup menyisakan kerinduan kepada gadis mana pun. Biarlah nanti aku pertimbangkan hal itu, sebab bila sudah tiba waktunya tentu aku akan menikah dan mewujudkan mimpi itu.
Lihat saja anggaran pembelian alat keamanan dan pemeliharaan. Sangat minim. Jelas, peralatan TNI sangat di bawah standar, ketinggalan zaman dan berusia lanjut. Armada pesawat TNI, misalnya, jauh dari standar modern, sudah tua. Tidak mengherankan kalau banyak peristiwa kecelakaan pesawat militer di negeri ini, dan menelan korban yang tidak sedikit setiap tahun. Berapa banyak prajurit yang gugur sia-sia? Tidak mengherankan pula jika banyak oknum TNI yang berprofesi ganda menjadi tentara bayaran, bekingan pejabat dan pengusaha, sampai menjadi bandit kelas kakap dan penjahat negara yang jelas-jelas melanggar kode etik profesi bahkan menanggalkan janji yang terpatri sewaktu pendidikan dulu. Ya, itulah hidup. Kadang silau harta dan kemewahan yang ditawarkan dunia bisa memutarbalikkan pemikiran siapa pun. Tapi sudahlah, apa peduliku. Lagipula aku hanyalah tentara, ya prajurit yang berusaha menjalankan tugasku sebaik mungkin.
“Sepertinya ada sesuatu yang tengah kaupikirkan, Yung?”
Tiba- tiba saja suara Ramses datang membuyarkan pemikiranku. Ya, dia bernama Ramses Situmorang, sahabatku. Aku bertemu lagi dengannya di sini, satu penempatan tugas di tapal batas ini. Sudah lama juga kami tidak bertemu. Dia teman seangkatanku di Secaba dulu. Semenjak selesai pendidikan kami terpisah karena berbeda tempat tugas, tetapi secara kebetulan kami bertemu lagi di tanah Cendrawasih ini. Ya, secara kebetulan mungkin. Keakraban dan jalinan persahabatan yang dulu sempat terpisah kini kembali akrab dan terjalin hangat.
“Ah tidak, cuma aku teringat saja dengan ayahku di kampung, Ses,” lirihku lagi.
“Sudahlah, Buyung, memang kadang kita tidak bisa mengelak dari rasa rindu itu, manusiawi memang.”
Ia bangkit menyerahkan secangkir kopi panas dan kembali ke ruang pengintaian. Aku beranjak dari dudukku dan menghampirinya. Mataku menyapu pohon-pohon raksasa hijau yang mengerubungi setiap mata memandang. Dari jauh mendung semakin memaksa dingin menusuk-nusuk dinding demi dinding menara pengintai ini. Bendera merah putih itu semakin berkibar megah dan berwibawa diterpa angin dan rinai yang makin lama makin bercucuran.
“Banyak alasan yang memaksaku jadi tentara, Yung. Salah satunya mungkin karena cintaku pada tanah Pertiwi ini.”
“Meski kadang bahaya menghantam, meski kadang jauh dari orang-orang yang kita sayangi, meski kadang hidup terasing di wilayah tapal batas ini, dan meski… apa lagi?”
“Ya, meski semuanya harus berakhir di ujung peluru dan kita hanya dapat membayangkan satu per satu wajah orang-orang yang kita cintai, sebelum semuanya menjadi kabur dan gelap. Tiba-tiba saja orang yang kita sayangi itu hanya mengenang nama kita, atau paling mujur melihat dan menyaksikan prosesi pemakaman kita. Sementara, kita sudah terbujur kaku di peti dengan balutan sang merah putih. Orang- orang melayat menawarkan wajah kesedihan dan beberapa dentuman senapan dan derap sepatu laras menyertai detik-detik kepergian kita ke tempat peristirahatan terakhir. Sesudah itu kita tamat, berakhir, tak berarti apa-apa dan tentu tidak lagi diingat dan dicatat dalam sejarah,” ujarku.
